Sejarah Hari Valentine

hari valentine,valentine's day, sejarah valentine,

Valentine day (hari valentine atau hari kasih sayang) merupakan suatu fenomena yang banyak diperbincangkan oleh para muda-mudi, bahkan sampai orang yang sudah menikahpun saat memasuki awal bulan februari. Berbagai media periklanan, bisnis, dan sebagainya memanfaatkan momentum ini untuk saling memberi kasih sayang “katanya” dengan saling memberi ucapan kasih sayang, hadiah, dan semacamnya, tanpa mengetahui apa dan asal usul hari valentine itu. Padahal Allah swt. telah berfirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra: 36)

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini marilah kita tilik sebentar apa dan bagaimana asal usul hari valentine itu. Dalam The World Book Encyclopedia (1998) dejelaskan sebagai berikut.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan obyek hiburan. Pada tanggal 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.

Kebiasaan mengirim kartu valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St.valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam.

Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa st. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan raja romawi pada saat itu yaitu Raja Claudius II (268 – 270 M) pada tanggal 14 Februari 270 M dan untuk mengagungkannya sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya merayakan kematin st. Valentine sebagai upacara keagamaan. Namun sejak abad ke 16 M, perayaan itu tidak lagi dijadikan sebagai perayaan keagamaan. Hari valentine kemudian dihubungkan dengan acara perjamuan kasih sayang bangsa romawi yang disebut “supercalis” setiap tanggal 15 februari.

Setelah orang romawi masuk agama nasrani (kristian), acara supercalis kemudian dihubungkan dengan upacara kematian st. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang berarti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang ‘martyr’ bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh dari pengertian sebenarnya. Orang-orang pada saat ini tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Saat ini orang mengenal Valentine melalui kartu ucapan, pesta persaudaraan, tukar-menukar kado dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.

Lalu bagaimana pandangan islam tentang perayaan valentine’s day (hari valentine) ini?? Silahkan lihat di pandangan islam tentang valentine’s day (hari valentine).

Iklan

2 thoughts on “Sejarah Hari Valentine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s